Di sini, di ruangan ini, aku masih suka memandangi setiap langkahmu, menyaksikan berbagai macam bentuk indah dirimu, sembari menyeka sebuah parang, yang kutahu itu hanyalah menjadi bayang semu yang hanya merobek guratan-guratan luka yang telanjur bersarang karena indah waktu. Aku masih sering kembali ke masa lalu, ketika kita bersama, membuka lembaran demi lembaran kisah kita ketika waktu masih dalam taraf yang aman.
Maafkan aku yang masih terus bergelayut di dalam otakmu walaupun saat ini kau tak memikirkanku. Maafkan aku yang masih sering mengulang memori di malam hari. Dan maafkan aku pula yang masih sering menemuimu dalam mimpi, melihatmu tersenyum dengan hamparan padang rumput yang luas di bawah pohon besar, hanya untuk melihatmu bahagia. Aku hanya inginkan itu.
Oh iya, kau tak perlu khawatir lagi. Aku sudah baikan kok. Tetapi sepertinya untuk menghapus kejernihan itu harus ditempuh layaknya mendaki gunung Everest. Kau tahu? Aku setiap hari berpacu dengan malam, berpacu dengan segala memori di otak untuk paling tidak menghempas sedikit bayang indahmu yang telanjur lengket. Namun aku tak bisa. Aku selalu dirantai dan digelangi setiap detik yang itupun membuatku merasakan indahnya kembali masa lalu itu.
Sungguh, sosok misterius itu hanya bernama waktu. Bahkan lambai detikpun semakin menyempitkanku, hingga kini, terpaut masa lalu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar