Rabu, 16 November 2011

Sosok Misterius Itu Bernama Waktu.....

Di sini, di ruangan ini, aku masih suka memandangi setiap langkahmu, menyaksikan berbagai macam bentuk indah dirimu, sembari menyeka sebuah parang, yang kutahu itu hanyalah menjadi bayang semu yang hanya merobek guratan-guratan luka yang telanjur bersarang karena indah waktu. Aku masih sering kembali ke masa lalu, ketika kita bersama, membuka lembaran demi lembaran kisah kita ketika waktu masih dalam taraf yang aman.

Maafkan aku yang masih terus bergelayut di dalam otakmu walaupun saat ini kau tak memikirkanku. Maafkan aku yang masih sering mengulang memori di malam hari. Dan maafkan aku pula yang masih sering menemuimu dalam mimpi, melihatmu tersenyum dengan hamparan padang rumput yang luas di bawah pohon besar, hanya untuk melihatmu bahagia. Aku hanya inginkan itu.

Oh iya, kau tak perlu khawatir lagi. Aku sudah baikan kok. Tetapi sepertinya untuk menghapus kejernihan itu harus ditempuh layaknya mendaki gunung Everest. Kau tahu? Aku setiap hari berpacu dengan malam, berpacu dengan segala memori di otak untuk paling tidak menghempas sedikit bayang indahmu yang telanjur lengket. Namun aku tak bisa. Aku selalu dirantai dan digelangi setiap detik yang itupun membuatku merasakan indahnya kembali masa lalu itu.

Sungguh, sosok misterius itu hanya bernama waktu. Bahkan lambai detikpun semakin menyempitkanku, hingga kini, terpaut masa lalu...

Jumat, 11 November 2011

Rel Kereta pun dapat Berkarat, dan Kemudian Hancur

T
ampaknya bayangan akan dirimu akan selalu menggelayut dalam pikiranku, entah sampai kapan. Entah sampai kapan aku harus bertemu dengan sepi, yang konon itu akan merasuki jiwa-jiwa yang tenang untuk menghancurkannya dari dalam. Sebab, yang aku tahu, sepi itu membunuh. Membunuh tiap lekuk tawa dalam jiwa, membunuh tiap sunggingan senyum, yang dulunya adalah penghias ranumnya rona muka seseorang yang telah bahagia.

Apa kabar dirimu? Ah, aku tak perlu merisaukan itu. Aku selalu memimpikan kau dikekang dalam pribadimu yang bahagia, jauh dari segala hal yang negatif, yang kau temui ketika bersama dulu. Aku selalu memimpikanmu dengan dikelilingi bunga-bunga yang tumbuh subur, merekah merah di antara bukit-bukit yang asri, dan kau berlarian di antaranya. Aku tak pernah memimpikanmu duduk dalam kesendirian, di depan sebuah pintu, yang kau sendiri pun tak tahu pintu itu berisi apa.

Sepertinya akan sia-sia saja aku terus berdiri di sini sendiri, dan kembali bergelayut dengan sepi. Sepertinya akan sia-sia jika dalam penantianku semuanya akan terasa hambar. Hambar tanpa segala warna yang kau berikan agar hanya dapat melihatku tersenyum, melihatku bernyanyi dengan suara yang lebih mirip suara klakson bus, atau cuma ingin melihatku menyunggingkan tawa yang itu cukup membuat damai di hatimu. Ah, sungguh aku ingin mengulang memori itu yang tak akan pernah dan tak akan dapat terhapus dari beberapa bagian otakku yang memang telah kusiapkan sebelumnya…

Oh iya, aku sehat-sehat saja kok. Jangan kuatir dengan kesehatanku. Aku masih bisa menulis, kan? Aku juga masih bisa berkendara sejauh 91 kilometer agar kita dapat berada di kota yang sama, walaupun itu sulit, berkendara dengan konsentrasi terpecah, yang agaknya menjadi sangat rawan, bahkan bagi aku sendiri. Namun aku tak terlalu mempermasalahkannya.

Aku masih sering mengunjungi tempat-tempat yang mengandung memori-memori yang tak akan habis dalam pikiranku, hanya untuk sekedar lewat dan merenung, ataupun mencoba mengulang apa yang terjadi jauh jauh saat yang lalu dengan perasaan sama : sepi. Aku masih sering mencoba mengingat, beberapa kebodohanku yang justru karena itulah sepi itu muncul.

Memang tak kuat rasanya jika memori-memori itu kembali hadir, memotong jalan lurus yang telah aku sediakan untuk berpikir logis, menyediakan berbagai macam kenangan yang bahkan mungkin kau juga mengalami hal yang serupa. Karena konon, rel kereta pun akan patah suatu saat, jika pada masa ia ditempa terdapat sedikit karat pada bagian dalamnya, yang itupun mampu menggerogoti rel yang tak akan rapuh dengan hujan dan panas hingga puluhan tahun, menjadi rel yang dapat hancur kapan saja.

*peluk hangat untuk kamu yang mungkin telah bahagia di sana

Kamis, 10 November 2011

Menunda Kehilangan, Semua Itu Hanya Masalah Waktu...

Tiang lampu yang bergoyang-goyang diterpa hujan malam ini di ujung jalan itu praktis kini menjadi satu-satunya temanku ketika harus bersua lagi dengan kegelapan malam, dengan dinginnya yang merasuk tulang hingga menusuk sampai ke sistem syaraf itu sendiri, tanpa kamu. Masih teringat jelas ketika di bawah tiang lampu itu aku menyaksikanmu pulang, dengan sejuta senyum yang kau hamparkan kepadaku, yang seolah menandakan bahwa kita masih bisa bertemu melalui teknologi yang berkembang dewasa ini. Masih teringat jelas ketika di bawah tiang lampu itu kita tertawa, dengan senyummu yang khas, menyaksikan kekonyolanku. Mendengar suaraku yang lebih mirip dengan kaleng yang dipukul parang.

Ah, sungguh jika waktu bisa diputar, tentu aku tak akan berbuat hal konyol yang secara langsung itu mampu mengusik ketenangan hatimu. Aku tahu sebenarnya kau di sana masih ingat dan masih terus merasa kehilangan ketika aku pergi. Aku tahu jika sebenarnya kau di sana masih terus menunggu, menunggu waktu bisa kembali, agar hal yang seharusnya tak dilakukan itu tak terjadi. Dan aku tahu sebenarnya di sana kau memimpikan aku kembali, dengan pancaran rona indah di wajah, yang itu mampu memberi kedamaian di hatimu.

Mungkin saat ini kau sedang berbaring di tempat tidurmu, mengulang memori dan ingatan-ingatan tentang kita, tentang kekonyolan dan kekompakan kita, lalu tanpa kau sadari kedua bola matamu mulai sembab, dan akhirnya kau berhenti melakukan itu. Atau mungkin kau sedang tertawa dengan senyummu yang khas, menonton film kartun kesayanganmu, hanya sekadar untuk mengisi kekosongan hati dan sebisa mungkin mengobati guratan-guratan luka yang ada dalam hatimu. Ah, tentunya juga bukan perkara besar, kan? Aku percaya itu.

Sungguh hingga detik ini, di waktu aku menulis ini, aku selalu ingin melihat senyum di tidurmu malam ini. Senyum yang menandakan kau damai dalam tidurmu, di saat segala persoalan, beban, dan ingatan selama hari ini larut dan tercuci bersih ketika kau bangun esok pagi karena memang, aku selalu inginkan kau mengawali harimu dengan senyuman pula, tanda bahwa kau telah sukses menaklukkan setan-setan yang menancap dalam hati, yang menimbulkan perasaan gundah malam tadi.

Tetapi, ah, jika aku membayangkan saat senyum merekah dari bibirmu ketika kau lelap dalam tidur, entah kenapa aku jadi ingin menutup mata, ikut terbuai dalam bunga tidur, hanya untuk bertemu dirimu. Aku selalu memimpikan satu hal yang sama tiap hari : menemui kamu yang sedang berjalan sendiri, menelusuri pantai, dengan pasir yang menyusup di sela-sela kaki di senja hari. Aku menemuimu berjalan penuh dengan rasa aman dan tenteram, dengan langit merah di senja hari itu, bersama siluet batu karang di kejauhan, dan burung-burung yang pulang ke rumahnya karena malam akan datang. Sungguh aku inginkan itu. Aku selalu memimpikan kita menghabiskan senja itu berdua, di atas pasir putih, sambil melihat matahari yang semakin lama semakin turun, hingga hanya meninggalkan seberkas cahaya merah kekuningan yang tampak di balik perahu nelayan yang terombang-ambing oleh ombak di kejauhan.

Namun, kurasa percuma. Bukankah kita telah memiliki jalan hidup sendiri-sendiri? Bukankah kita telah mengambil keputusan? Tetapi nun jauh di lubuk hatimu, aku bisa rasakan kalau kau punya perasaan yang sama, atau bahkan lebih dari ini. Sebuah perasaan yang tak akan menipu setiap gerak-gerik langkahmu, yang aku tahu setiap hari berjalan gontai, dengan tatapan yang kosong, dan dengan pikiran yang seperti tertutup kabut tebal yang menyebabkan kau sulit untuk melihat. Dan ketika itu terjadi, tak ada yang bisa menutupi. Semua akan berjalan sesuai dengan rel yang telah ada jauh sebelumnya.

Terlalu banyak cerita yang dapat ditulis dari kisah kita. Hari ini, tepat satu tahun lalu pun juga punya cerita tersendiri. Dan seperti yang pernah kukatakan, tiap aku coba mengurangi cerita itu sedikit demi sedikit, aku selalu sampai pada suatu tempat di mana tak ada orang lain yang mengetahui itu. Aku selalu sampai pada suatu kisah di mana terjadi dilema. Kamu ingat memori tentang Opening Gelora Bung Tomo, atau waktu pembukaan acara yang selalu aku tunggu sejak beberapa bulan lalu, yaitu IPL? Atau mungkin kamu juga akan ingat tentang Last Child? Tentang Maichi? Tentang telur bawang?

Tetapi, sudahlah. Aku tak akan pernah berhenti mencari tahu ke mana langkahmu berjalan. Aku juga merasakan kau menunggu, menungguku mengabarkan kabar baik, bukan? Namun, lebih dari itu. Aku lebih suka mengamatimu dalam gelap, ketika kau berbaur dan teman-temanmu menghiburmu. Aku tahu, itu seperti gurun pasir yang disiram air hujan, sejuknya tak akan tergantikan. Sedangkan kau pasti juga sedang mengamatiku yang selalu bergelayut tak tentu arah di dalam otakmu sambil menungguku yang mengatakan langsung kata-kata itu…

Oh iya, kau tak perlu cemas lagi. Aku sudah makan kok ketika aku menulis ini. Kau tak perlu SMS lagi untuk mengingatkan bahwa aku belum makan. Kau tak perlu ngambek lagi kok, sambil tiba-tiba menutup layar laptopku dan menyuruhku untuk makan. Jangan khawatir.

Dan seperti yang aku lihat di luar sana, hujanpun makin deras. Tiang lampu di ujung jalan yang juga menyimpan beberapa memori itu pun tetap bergoyang-goyang disapu derasnya hujan malam ini…….


*peluk hangat untuk kamu yang selalu hadir dalam pikiranku