T |
ampaknya bayangan akan dirimu akan selalu menggelayut dalam pikiranku, entah sampai kapan. Entah sampai kapan aku harus bertemu dengan sepi, yang konon itu akan merasuki jiwa-jiwa yang tenang untuk menghancurkannya dari dalam. Sebab, yang aku tahu, sepi itu membunuh. Membunuh tiap lekuk tawa dalam jiwa, membunuh tiap sunggingan senyum, yang dulunya adalah penghias ranumnya rona muka seseorang yang telah bahagia.
Apa kabar dirimu? Ah, aku tak perlu merisaukan itu. Aku selalu memimpikan kau dikekang dalam pribadimu yang bahagia, jauh dari segala hal yang negatif, yang kau temui ketika bersama dulu. Aku selalu memimpikanmu dengan dikelilingi bunga-bunga yang tumbuh subur, merekah merah di antara bukit-bukit yang asri, dan kau berlarian di antaranya. Aku tak pernah memimpikanmu duduk dalam kesendirian, di depan sebuah pintu, yang kau sendiri pun tak tahu pintu itu berisi apa.
Sepertinya akan sia-sia saja aku terus berdiri di sini sendiri, dan kembali bergelayut dengan sepi. Sepertinya akan sia-sia jika dalam penantianku semuanya akan terasa hambar. Hambar tanpa segala warna yang kau berikan agar hanya dapat melihatku tersenyum, melihatku bernyanyi dengan suara yang lebih mirip suara klakson bus, atau cuma ingin melihatku menyunggingkan tawa yang itu cukup membuat damai di hatimu. Ah, sungguh aku ingin mengulang memori itu yang tak akan pernah dan tak akan dapat terhapus dari beberapa bagian otakku yang memang telah kusiapkan sebelumnya…
Oh iya, aku sehat-sehat saja kok. Jangan kuatir dengan kesehatanku. Aku masih bisa menulis, kan? Aku juga masih bisa berkendara sejauh 91 kilometer agar kita dapat berada di kota yang sama, walaupun itu sulit, berkendara dengan konsentrasi terpecah, yang agaknya menjadi sangat rawan, bahkan bagi aku sendiri. Namun aku tak terlalu mempermasalahkannya.
Aku masih sering mengunjungi tempat-tempat yang mengandung memori-memori yang tak akan habis dalam pikiranku, hanya untuk sekedar lewat dan merenung, ataupun mencoba mengulang apa yang terjadi jauh jauh saat yang lalu dengan perasaan sama : sepi. Aku masih sering mencoba mengingat, beberapa kebodohanku yang justru karena itulah sepi itu muncul.
Memang tak kuat rasanya jika memori-memori itu kembali hadir, memotong jalan lurus yang telah aku sediakan untuk berpikir logis, menyediakan berbagai macam kenangan yang bahkan mungkin kau juga mengalami hal yang serupa. Karena konon, rel kereta pun akan patah suatu saat, jika pada masa ia ditempa terdapat sedikit karat pada bagian dalamnya, yang itupun mampu menggerogoti rel yang tak akan rapuh dengan hujan dan panas hingga puluhan tahun, menjadi rel yang dapat hancur kapan saja.
*peluk hangat untuk kamu yang mungkin telah bahagia di sana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar