Tiang lampu yang bergoyang-goyang diterpa hujan malam ini di ujung jalan itu praktis kini menjadi satu-satunya temanku ketika harus bersua lagi dengan kegelapan malam, dengan dinginnya yang merasuk tulang hingga menusuk sampai ke sistem syaraf itu sendiri, tanpa kamu. Masih teringat jelas ketika di bawah tiang lampu itu aku menyaksikanmu pulang, dengan sejuta senyum yang kau hamparkan kepadaku, yang seolah menandakan bahwa kita masih bisa bertemu melalui teknologi yang berkembang dewasa ini. Masih teringat jelas ketika di bawah tiang lampu itu kita tertawa, dengan senyummu yang khas, menyaksikan kekonyolanku. Mendengar suaraku yang lebih mirip dengan kaleng yang dipukul parang.
Ah, sungguh jika waktu bisa diputar, tentu aku tak akan berbuat hal konyol yang secara langsung itu mampu mengusik ketenangan hatimu. Aku tahu sebenarnya kau di sana masih ingat dan masih terus merasa kehilangan ketika aku pergi. Aku tahu jika sebenarnya kau di sana masih terus menunggu, menunggu waktu bisa kembali, agar hal yang seharusnya tak dilakukan itu tak terjadi. Dan aku tahu sebenarnya di sana kau memimpikan aku kembali, dengan pancaran rona indah di wajah, yang itu mampu memberi kedamaian di hatimu.
Mungkin saat ini kau sedang berbaring di tempat tidurmu, mengulang memori dan ingatan-ingatan tentang kita, tentang kekonyolan dan kekompakan kita, lalu tanpa kau sadari kedua bola matamu mulai sembab, dan akhirnya kau berhenti melakukan itu. Atau mungkin kau sedang tertawa dengan senyummu yang khas, menonton film kartun kesayanganmu, hanya sekadar untuk mengisi kekosongan hati dan sebisa mungkin mengobati guratan-guratan luka yang ada dalam hatimu. Ah, tentunya juga bukan perkara besar, kan? Aku percaya itu.
Sungguh hingga detik ini, di waktu aku menulis ini, aku selalu ingin melihat senyum di tidurmu malam ini. Senyum yang menandakan kau damai dalam tidurmu, di saat segala persoalan, beban, dan ingatan selama hari ini larut dan tercuci bersih ketika kau bangun esok pagi karena memang, aku selalu inginkan kau mengawali harimu dengan senyuman pula, tanda bahwa kau telah sukses menaklukkan setan-setan yang menancap dalam hati, yang menimbulkan perasaan gundah malam tadi.
Tetapi, ah, jika aku membayangkan saat senyum merekah dari bibirmu ketika kau lelap dalam tidur, entah kenapa aku jadi ingin menutup mata, ikut terbuai dalam bunga tidur, hanya untuk bertemu dirimu. Aku selalu memimpikan satu hal yang sama tiap hari : menemui kamu yang sedang berjalan sendiri, menelusuri pantai, dengan pasir yang menyusup di sela-sela kaki di senja hari. Aku menemuimu berjalan penuh dengan rasa aman dan tenteram, dengan langit merah di senja hari itu, bersama siluet batu karang di kejauhan, dan burung-burung yang pulang ke rumahnya karena malam akan datang. Sungguh aku inginkan itu. Aku selalu memimpikan kita menghabiskan senja itu berdua, di atas pasir putih, sambil melihat matahari yang semakin lama semakin turun, hingga hanya meninggalkan seberkas cahaya merah kekuningan yang tampak di balik perahu nelayan yang terombang-ambing oleh ombak di kejauhan.
Namun, kurasa percuma. Bukankah kita telah memiliki jalan hidup sendiri-sendiri? Bukankah kita telah mengambil keputusan? Tetapi nun jauh di lubuk hatimu, aku bisa rasakan kalau kau punya perasaan yang sama, atau bahkan lebih dari ini. Sebuah perasaan yang tak akan menipu setiap gerak-gerik langkahmu, yang aku tahu setiap hari berjalan gontai, dengan tatapan yang kosong, dan dengan pikiran yang seperti tertutup kabut tebal yang menyebabkan kau sulit untuk melihat. Dan ketika itu terjadi, tak ada yang bisa menutupi. Semua akan berjalan sesuai dengan rel yang telah ada jauh sebelumnya.
Terlalu banyak cerita yang dapat ditulis dari kisah kita. Hari ini, tepat satu tahun lalu pun juga punya cerita tersendiri. Dan seperti yang pernah kukatakan, tiap aku coba mengurangi cerita itu sedikit demi sedikit, aku selalu sampai pada suatu tempat di mana tak ada orang lain yang mengetahui itu. Aku selalu sampai pada suatu kisah di mana terjadi dilema. Kamu ingat memori tentang Opening Gelora Bung Tomo, atau waktu pembukaan acara yang selalu aku tunggu sejak beberapa bulan lalu, yaitu IPL? Atau mungkin kamu juga akan ingat tentang Last Child? Tentang Maichi? Tentang telur bawang?
Tetapi, sudahlah. Aku tak akan pernah berhenti mencari tahu ke mana langkahmu berjalan. Aku juga merasakan kau menunggu, menungguku mengabarkan kabar baik, bukan? Namun, lebih dari itu. Aku lebih suka mengamatimu dalam gelap, ketika kau berbaur dan teman-temanmu menghiburmu. Aku tahu, itu seperti gurun pasir yang disiram air hujan, sejuknya tak akan tergantikan. Sedangkan kau pasti juga sedang mengamatiku yang selalu bergelayut tak tentu arah di dalam otakmu sambil menungguku yang mengatakan langsung kata-kata itu…
Oh iya, kau tak perlu cemas lagi. Aku sudah makan kok ketika aku menulis ini. Kau tak perlu SMS lagi untuk mengingatkan bahwa aku belum makan. Kau tak perlu ngambek lagi kok, sambil tiba-tiba menutup layar laptopku dan menyuruhku untuk makan. Jangan khawatir.
Dan seperti yang aku lihat di luar sana, hujanpun makin deras. Tiang lampu di ujung jalan yang juga menyimpan beberapa memori itu pun tetap bergoyang-goyang disapu derasnya hujan malam ini…….
*peluk hangat untuk kamu yang selalu hadir dalam pikiranku